TRADISI IDUL ADHA YANG BISA KAMU MANFAATKAN UNTUK DESTINASI LIBURAN

0
418
views

 

Hari raya idul adha merupakan salah satu hari raya umat muslim identik dengan qurban dan haji. Namun tidak hanya itu, keberagaman adat istiadat dan budaya di Indonesia juga melahirkan beragam tradisi unik dari berbagai daerah untuk menyambut idul adha. Bagi kamu yang ingin memanfaatkan hari libur idul adha untuk berlibur dan travelling, tidak ada salahnya kamu berlibur di tempat berikut ini untuk menyaksikan tradisi yang khas menyambut idul adha.

 

Grebeg Besar di Yogyakarta

Grebeg merupakan salah satu upacara kerajaan yang hingga kini masih dilestarikan oleh Kraton Kesultanan Yogyakarta. Di dalam upacara garebeg terkandung unsur-unsur kebudayaan, seperti religi, bahasa, dan adat istiadat. Salah satu upacara grebeg yang diadakan tiap tahunnya adalah upacara grebeg besar. Mengapa bernama ‘grebeg besar’? karena upacara ini diadakan untuk menyambut hari raya idul adha yang notabene jatuh pada bulan ‘besar’. Bulan besar merupakan bulan ke-12 dalam urutan kalender jawa. Dalam konteks kalender islam, bulan besar sama dengan bulan dzulhijah.

Grebeg Besar Yogyakarta

Grebeg besar biasanya diadakan sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat atau setelah solat idul adha. Acara ritual Grebeg besar idul adha ini biasanya diawali dengan keluarnya iringan pasukan keraton Yogyakarta yang terdiri dari prajurit Wirobrojo, Ketanggung, Bugis, Daeng, Patangpuluh, Nyutro. Mereka mengenakan seragam dan atribut beraneka warna sambil membawa senjata tradisional seperti tombak, keris, serta senapan kuno. Di belakang pasukan keraton selanjutnya iring-iringan gunungan grebeg besar idul adha. Gunungan ini terdiri dari empat jenis gunungan yakni gunungan lanang (laki-laki), gunungan wadon (perempuan), gunungan gepak, dan gunungan pawuhan. Iring-iringan tersebut berasal dari Kraton melewati Siti Hinggil, Pagelaran, dan menuju Alun-Alun Utara dan Masjid Gede.

 

Grebeg Besar di Solo

Tidak jauh berbeda dengan acara grebeg besar yang diadakan di Yogyakarta, acara grebeg besar di kota Solo berlangsung pada pagi hari tepat pada tanggal 10 dzulhijah. Puncak perayaan ditandai dengan dibawanya gunungan hajad dalem dari Kraton Surakarta menuju Masjid Agung. Jenis gunungan yang diarak terdiri dari dua gunungan yaitu gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). 

Grebeg Besar Solo, Tradisi Idul Adha

Biasanya sesuai dengan adat setempat, satu gunungan dibagikan di masjid sedangkan satu gunungan lainnya dibawa kembali ke keraton. Rute arak-arakan biasanya berawal dari Kraton menuju Sitinggil, kemudian diarak menuju masjid agung melalui alun-alun.

 

Tradisi Apitan di Semarang

Tradisi apitan merupakan tradisi arak-arakan keliling desa membawa hasil pertanian warga berupa buah-buahan dan sayur-sayuran. Tradisi yang diadakan oleh warga kelurahan Gedawang, Banyumanik, Semarang ini merupakan tradisi yang diselenggrakan rutin setiap tahun. Tradisi ini biasanya diselenggarakan pada hari terakhir bulan ‘Apit’. Yang dimaksud bulan ‘apit’ adalah bulan yang diapit oleh dua bulan sakral bagi umat muslim, yaitu antara bulan syawal (idul fitri) dan bulan dzulhijah (idul adha) dalam kalender islam (kalender hijriyah). Itulah sebabnya tradisi ini bernama tradisi ‘apitan’. Tradisi ini biasanya diawali oleh barisan marching band dari anak-anak, kemudian barisan berikutnya parade denok kenang dari warga desa yang diikuti oleh parade para ketua RW. Para ketua RW ini diwajibkan untuk memakai baju adat jawa. selanjutnya barisan anak-anak SD dengan memakai baju pramuka. Barisan paling akhir berupa parade mobil dengan berhiaskan tanaman dari hasil bumi diarak menuju RW 5 kelurahan Gedawang, kecamatan banyumanik, Semarang.

Tradisi Apitan Semarang

Total ada 9 RW dengan 9 mobil yang dihias dengan hasil bumi berupa sayur, buah dan palawija dalam karnaval arak-arakan tersebut. Ratusan warga yang datang dan mengikuti arak-arakan tersebut biasanya memperoleh jatah sayur, buah-buahan dan palawija dari tradisi adat tersebut. Warga setempat yakin, bahwa dengan memperoleh jatah sayur dan buah-buahan dari arak-arakan tersebut bisa mendatangkan rezeki.

 

Tradisi Manten Sapi di Pasuruan

Berbeda dengan Semarang, umat muslim di kabupaten Pasuruan punya tradisi unik dalam menyambut Idul adha yaitu dengan diadakannya ritual manten sapi. Ritual yang dilakukan warga desa Sebalong, kecamatan Nguling ini digelar sore hari sekitar jam 14.00 waktu setempat, sehari menjelang hari raya idul adha.

Tradisi Manten Sapi Pasuruan

Sapi-sapi yang sedianya akan disembelih untuk qurban diperlakukan  seperti pengantin. Sapi-sapi tersebut dimandikan hingga benar-benar bersih. Setelah itu dirias sedemikian rupa dengan bunga-bunga. Tubuh sapi-sapi tersebut juga disemati dengan kain putih. Setelah semuanya telah siap, sapi-sapi tersebut diarak keliling kampung dan berakhir di masjid kampung setempat. Sebagai pelengkap acara ritual manten sapi ini juga diikuti oleh arak-arakan warga, dengan membawa aneka macam bumbu, buah-buahan dan beras.

 

Ternyata tradisi idul adha di berbagai daerah di Indonesia sangat unik dan bisa kamu jadikan sebagai referensi destinasi wisata liburanmu kali ini.

 

 

 

Share This!
Share On Twitter
Share On Linkdin
Share On Pinterest

Comments

comments